Media Optimis

Blog EntryHarapan di Balik Karir MentokJan 2, '07 12:03 AM
for everyone
Penulis: Adytia P

Sebenarnya, saya merasa sebagai manusia yang beruntung. Hidup mapan sebagai seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan besar, gaji sangat lumayan, dan kesejahteraan terjamin. Kalau saya dan keluarga saya sakit, seluruh biaya berobatnya ditanggung oleh perusahaan. Betapa saya merasa amat bersyukur oleh semua karunia ini.

Tapi manusia memang tak pernah puas. Saya pun demikian. Ketika bertemu teman-teman kuliah dan melihat bagaimana hidup mereka sekarang, saya merasa iri. Rata-rata mereka sudah menjadi manager, direktur, atau setidaknya supervisor. Ada pula di antara mereka yang sukses menjadi wirausahawan.

Sedangkan saya? Hingga usia berkepala tiga begini, jabatan saya hanya staf biasa. Ini adalah jabatan terendah pada struktur organisasi perusahaan, selain office boy tentu saja. Selain tak punya bawahan, pekerjaan saya pun amat membosankan. Setiap hari saya harus melakukan pekerjaan yang itu-itu saja. Bahkan, pekerjaan itu pun sebenarnya sangat tidak relevan dengan jenjang pendidikan saya yang lulusan S1. Jenis pekerjaan saya sebenarnya lebih cocok buat lulusan SMA atau D3.

Lantas ada yang membuat saya lebih bosan lagi: jenjang karir saya sudah mentok. Struktur organisasi di kantor saya tidak memungkinkan bagi saya untuk naik jabatan. Kecuali jika saya pindah ke divisi lain, tapi itu sepertinya mustahil, sebab keahlian dan disiplin ilmu saya tidak cocok di divisi lain.

Kondisi ini membuat semangat bekerja saya menurun drastis. Banyak pekerjaan saya yang terbengkalai, hingga suatu hari manajer saya memberikan “surat cinta” alias SP1. Katanya jika saya tidak berubah juga dalam hitungan enam bulan ke depan, maka ada kemungkinan saya di-PHK.

Duh, betapa ngerinya membayangkan hal itu. Sebab mencari pekerjaan baru tidaklah mudah. Sebenarnya saya ingin sekali berwirausaha, tapi saya merasa belum siap. Terlebih karena saya sudah berkeluarga dan punya anak. Jika saya berhenti bekerja sementara usaha saya belum mapan, dari mana saya harus menghidupi anak dan istri?

Dalam situasi serba terjepit seperti itu, saya mencoba bertahan dengan pekerjaan saat ini. Lantas suatu hari, direktur kantor saya mengundang seluruh karyawan dalam sebuah pertemuan akbar. Dalam acara itu, beliau berceramah mengenai kondisi perusahaan dan beberapa hal penting lainnya. Satu di antara isi ceramahnya adalah masalah jenjang karir. Wah, ini kok gue banget gitu lho. Saya pun mendengarkan uraiannya dengan serius.

Sang direktur berkata, memang tidak semua orang dapat menjadi manajer atau supervisor. Tapi setiap orang dapat berusaha mencapai jenjang karir yang lebih tinggi. Yang penting, cobalah berprestasi sebaik mungkin. Banyak-banyaklah belajar dari teman-teman lain di kantor.

Ia pun mencontohkan seorang karyawan – teman saya juga – yang bernama Andi. Awalnya, Andi ini hanya seorang office boy. Tapi ia sangat giat bekerja dan belajar. Ia kuliah sambil bekerja, dan belajar komputer dari karyawan-karyawan yang lebih senior. Kini, Andi menikmati hasil jerih payahnya. Ia diangkap menjadi staf yang menangani masalah-masalah komputer di kantor.

Uraian pak direktur itu membuat saya sadar, bahwa ternyata saya masih punya banyak peluang untuk mencapai karir yang lebih baik. Memang, hampir sangat mustahil bagi saya untuk naik jabatan menjadi supervisor pada divisi saya sekarang. Tapi ternyata, masih banyak peluang di luar sana. Di kantor saya, begitu banyak orang yang ahli di bidang komputer, desain grafis, dan sebagainya. Kebetulan, saya menyukai kedua bidang itu. Tapi selama ini saya tak bisa pindah ke divisi tersebut, karena saya menekuni komputer dan desain hanya sebatas hobi. Pengetahuan dan keahlian saya sangat terbatas.

Ya, saya jadi berpikir, mungkin saya bisa belajar banyak dari teman-teman yang ahli komputer dan desain itu. Atau, saya mengambil kursus komputer di lembaga pendidikan profesional. Nanti setelah mahir, mungkin saya bisa mengajukan mutasi ke bagian komputer. Sepengetahuan saya, hal seperti ini sangat mungkin terjadi di perusahaan saya, karena sudah banyak teman yang pindah ke divisi lain, yang bidang kerjanya sangat berbeda dengan bidang terdahulu.

Atau, keahlian yang saya dapatkan dari kursus itu bisa saya jadikan bekal untuk berwiraswasta. Itu sangat mungkin, bukan?

Saya tersenyum lega kini. Walau belum ada perubahan pada karir saya, setidaknya kini saya dapat lebih optimis, sebab saya melihat banyak peluang yang menjanjikan di luar sana. (*)

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help