Penulis: Adytia P
Sebenarnya, saya merasa sebagai manusia yang beruntung. Hidup mapan
sebagai seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan besar, gaji sangat
lumayan, dan kesejahteraan terjamin. Kalau saya dan keluarga saya
sakit, seluruh biaya berobatnya ditanggung oleh perusahaan. Betapa saya
merasa amat bersyukur oleh semua karunia ini.
Tapi manusia memang tak pernah puas. Saya pun demikian. Ketika bertemu
teman-teman kuliah dan melihat bagaimana hidup mereka sekarang, saya
merasa iri. Rata-rata mereka sudah menjadi manager, direktur, atau
setidaknya supervisor. Ada pula di antara mereka yang sukses menjadi
wirausahawan.
Sedangkan saya? Hingga usia berkepala tiga begini, jabatan saya hanya
staf biasa. Ini adalah jabatan terendah pada struktur organisasi
perusahaan, selain office boy tentu saja. Selain tak punya bawahan,
pekerjaan saya pun amat membosankan. Setiap hari saya harus melakukan
pekerjaan yang itu-itu saja. Bahkan, pekerjaan itu pun sebenarnya
sangat tidak relevan dengan jenjang pendidikan saya yang lulusan S1.
Jenis pekerjaan saya sebenarnya lebih cocok buat lulusan SMA atau D3.
Lantas ada yang membuat saya lebih bosan lagi: jenjang karir saya sudah
mentok. Struktur organisasi di kantor saya tidak memungkinkan bagi saya
untuk naik jabatan. Kecuali jika saya pindah ke divisi lain, tapi itu
sepertinya mustahil, sebab keahlian dan disiplin ilmu saya tidak cocok
di divisi lain.
Kondisi ini membuat semangat bekerja saya menurun drastis. Banyak
pekerjaan saya yang terbengkalai, hingga suatu hari manajer saya
memberikan “surat cinta” alias SP1. Katanya jika saya tidak berubah
juga dalam hitungan enam bulan ke depan, maka ada kemungkinan saya
di-PHK.
Duh, betapa ngerinya membayangkan hal itu. Sebab mencari pekerjaan baru
tidaklah mudah. Sebenarnya saya ingin sekali berwirausaha, tapi saya
merasa belum siap. Terlebih karena saya sudah berkeluarga dan punya
anak. Jika saya berhenti bekerja sementara usaha saya belum mapan, dari
mana saya harus menghidupi anak dan istri?
Dalam situasi serba terjepit seperti itu, saya mencoba bertahan dengan
pekerjaan saat ini. Lantas suatu hari, direktur kantor saya mengundang
seluruh karyawan dalam sebuah pertemuan akbar. Dalam acara itu, beliau
berceramah mengenai kondisi perusahaan dan beberapa hal penting
lainnya. Satu di antara isi ceramahnya adalah masalah jenjang karir.
Wah, ini kok gue banget gitu lho. Saya pun mendengarkan uraiannya
dengan serius.
Sang direktur berkata, memang tidak semua orang dapat menjadi manajer
atau supervisor. Tapi setiap orang dapat berusaha mencapai jenjang
karir yang lebih tinggi. Yang penting, cobalah berprestasi sebaik
mungkin. Banyak-banyaklah belajar dari teman-teman lain di kantor.
Ia pun mencontohkan seorang karyawan – teman saya juga – yang bernama
Andi. Awalnya, Andi ini hanya seorang office boy. Tapi ia sangat giat
bekerja dan belajar. Ia kuliah sambil bekerja, dan belajar komputer
dari karyawan-karyawan yang lebih senior. Kini, Andi menikmati hasil
jerih payahnya. Ia diangkap menjadi staf yang menangani masalah-masalah
komputer di kantor.
Uraian pak direktur itu membuat saya sadar, bahwa ternyata saya masih
punya banyak peluang untuk mencapai karir yang lebih baik. Memang,
hampir sangat mustahil bagi saya untuk naik jabatan menjadi supervisor
pada divisi saya sekarang. Tapi ternyata, masih banyak peluang di luar
sana. Di kantor saya, begitu banyak orang yang ahli di bidang komputer,
desain grafis, dan sebagainya. Kebetulan, saya menyukai kedua bidang
itu. Tapi selama ini saya tak bisa pindah ke divisi tersebut, karena
saya menekuni komputer dan desain hanya sebatas hobi. Pengetahuan dan
keahlian saya sangat terbatas.
Ya, saya jadi berpikir, mungkin saya bisa belajar banyak dari
teman-teman yang ahli komputer dan desain itu. Atau, saya mengambil
kursus komputer di lembaga pendidikan profesional. Nanti setelah mahir,
mungkin saya bisa mengajukan mutasi ke bagian komputer. Sepengetahuan
saya, hal seperti ini sangat mungkin terjadi di perusahaan saya, karena
sudah banyak teman yang pindah ke divisi lain, yang bidang kerjanya
sangat berbeda dengan bidang terdahulu.
Atau, keahlian yang saya dapatkan dari kursus itu bisa saya jadikan bekal untuk berwiraswasta. Itu sangat mungkin, bukan?
Saya tersenyum lega kini. Walau belum ada perubahan pada karir saya,
setidaknya kini saya dapat lebih optimis, sebab saya melihat banyak
peluang yang menjanjikan di luar sana. (*)